Sepenggal cerita di tahun 2001

22 04 2016

Seorang gadis yang baru saja lulus SMA itu, qadarullah berhasil lulus lulus disalah satu PTN di kota Padang. Alhamdulillah masih dapat negeri, bukan bahagia karna lulus di PTN itu sebenarnya, tapi lebih ke ‘bahagia’ karna deal dgn orang tua sebelumnya yang mengharuskan kuliah negeri akhirnya tercapai. Gadis itu paham betul kondisi keluarganya yang tidak mungkin jika kuliah di swasta.

Minggu Sore itu, si gadis sudah bersiap2 dgn satu tas pakaian. Dia harus berangkat sore itu juga karna senin besok adalah hari pertama penerimaan mahasiswa baru. Ibunya menyiapkan 2 rantang kecil berisi makanan dan satu lembar karpet buat tidur. Si gadis tidak memiliki saudara dikota itu, hanya bermodalkan alamat seorang teman yang kebtulan satu kampung sm dia dan sangat buta dgn kota itu. Semoga nanti alamatnya bisa ketemu. Cuma bs bergumam spt itu. Ibunya tidak bisa mengantarnya, dia Cuma membrikan berlembar2 duit 5 ribuan dan berpesan semoga cukup untuk seminggu ya nak. Sampai sekarangpun si anak gadis itu tidak tau berapa jumlah persissnya duit tersebut, yg jelas uangnya berkurang Cuma 60rb selama seminggu itu, sisanya dibalikin sama si Ibu pas pulang kampung minggu dpnnya.

Singkat cerita, ketika sianak nyampe di terminal kota padang, ternyata sudah magrib. Dia bingung mau menyakan alamat k siapa. Celingak celinguk beberapa saat, mencari wartel sambil menenteng tas dan karpet. Alhmdulillah, ditengah kebimbangan sambil memegang secarik kertas yang bertuliskan alamt dan nomor telepn, ketemu dgn seorang ibuk2 yang baik dan menawarkan diri agar si gadis tadi bersedia nginap di rumahnya karna hari sudah mmau gelap. Tanpa ragu, sigadis td mengiyakan. Walau dalam hati dia sibuk berdoa smg ibuk ini orang baik.

15 tahun kemudian, si gadis kecil td pun skr sudah menjadi ibu. Ketika anaknya sakit, dia tak berhenti berdoa untuk kesembuhan anaknya, ketika anaknya sehat dan riang, dia membuncah bahagia. Setiap habis sholat dia tak pernah berhenti mendoakan kebaikan dan kebahagian anaknya. Ah, trnyata jadi seorang ibu itu memang spt itu ya. Tiba2 sigadis ingat akan ibunya yg jauh disana. Rindu sekali. Ingat akan kejadian belasan tahun silam dimana seorag ibu melepas kepergian anaknya k rantau hanya dengan rantang kecil, karpet kecil dan berlembar2 uang 5rb-an yang diikat karet. Tidak ada tangis, tp masih ingat jelas raut mukanya yang tegar, masih ingat dgn pesannya agar uang itu cukup utk seminggu. Tiba2 sigadis ingat dgn pertolongan seorang ibuk yang baik yang mau menwarkan si gadis dan sedikit memaksa agar mau menginap dirumahnya. Sigadis itu pun baru sadar skr, puluhan tahun kemudian, dia yakin pasti pertolongan ibu td adalah jawaban doa dr ibunya. Walau tidak bisa mngantar, walau tidak ada tangis, pasti Doa si Ibu gadis itulah yang menggerakkan hati ibu baik itu.

Ps : Anak gadis itu adalah saya. Miss you already mom.

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: